RSS

Chapter 2_7 tahun kemudian_part3

Waktu yang sama, di sebuah ruangan,tingkat 3 gedung bagian Special Class

“Ferro, ini aku… data yang kau cari sudah ada, mau lihat sekarang?” suara seorang gadis dari balik pintu, Ferro yang sedang menyusun 100.000 keping puzzle terdiam sejenak, tinggal 1 potong puzzle lagi yang dibutuhkannya untuk menyelesaikan keseluruhan puzzle bergambar pegunungan Himalaya

“Bawakan kemari” perintah Ferro dengan nada lembut, dan seketika seorang gadis yang tinggi semampai masuk, lalu menaruh flashdisk di meja dengan agak kasar. Ferro tidak peduli, ia langsung mengambil flashdisk itu dan menyambungkannya ke  USB port laptop Apple nya

“Kenapa kamu penasaran sekali sama dia? Menurut ku dia Cuma orang biasa”

“Kemungkinannya memang baru 5 %, tapi tetap harus diselidiki, kalau kau tak mau membantu ku, tolong jangan ganggu aku ya” Kata Ferro sambil mengklik folder bernama Kunang A. E. Z “I GET U”

“Huh! Terserah padamu!” gadis itu dengan kesal berlalu dari ruangan Ferro

“ Kunang,,, nama ayahnya tidak tercantum, hmm lahir di Jakarta tapi lama di Lombok,,, biodatanya biasa aja, nah kalau hasil test uji masuknya…hmm…” Ferro memperhatikan file..

Nama                        : Kunang Annalitha Emeraldy Z

Sekolah Asal              : SMAN 1 Lombok

Tempat/tanggal lahir : Jakarta,  9 September 19xx

Anak ke-                    : 1 (tunggal)

Nama Orang tua         : Ny. Miranda

Hasil tes ujian

No Kualifikasi Kelas Nilai Keterangan
1

2

3

Special Class

Reguler class

Music Class

80

80

80

Memiliki kemampuan menebak kartu, 9 dari 10 tebakannya benar, tapi pada tes lainnya biasa saja.

Hanya lemah di bagian soal yang menuntut pemahaman tingkat tinggi

Hampir memainkan dengan sempurna lagu Symphony no.8 Mozart dengan Biola tapi membuat kesalahan dasar di akhir lagunya

“Hm,, data ini masih belum cukup, tapi kecurigaan ku naik menjadi 10%, kalau aku benar seharusnya anak itu masuk ke special class” Ferro terdiam sesaat sambil tersenyum“

“Bukannya kamu gak tertarik sama dia?”

“oh… rupanya kamu di sini ya Maya, sejak kapan kau menyusup? Jika kamu tadi ngga berdengus mungkin aku gak akan sadar kamu sudah menyusup”

“Kau memang bisa melihat segalanya ya” seorang Gadis berambut sepundak dan dipotong segi keluar dari balik tirai, gadis keturunan India itu tidak menunjukkan ekspresi apapun “bahkan aku yang salah satu dari sedikit anak berbakat yang ahli menyusup dan menyamarpun hampir selalu ketahuan olehmu, oh ya kau belum jawab pertanyaan ku, gadis itu..”

“Yah walau aku gag suka dia, tapi kalau dugaan ku benar, mungkin dia bisa berguna banget buat kita” jawab Ferro yakin “setelah tugasmu yang sekarang sukses, maka selanjutnya dia yang menjadi tugasmu, kamu harus menyusup dan menjadi teman terbaiknya”

“Roger”

“Kamu gak mau tanya alasannya?”

“Why I must ask something which impossible to answer?”

“Good, kamu harus bener-bener hati-hati, sebab kalo dugaanku bener, dia tidak akan mungkin dapat ditipu dengan mudah”

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on March 29, 2010 in Chapter 2

 

Chapter 2_7 tahun kemudian_part 2

“HUATCIII…” Kunang bersin lumayan keras, rasanya ada yang menyumpahiku, pikirnya  agak merinding, saat ini dia masih di lapangan, menunggu pembagian kelas “Hei cowok PS, sudah kubilang itu baterainya habis”

“Ini RUSAK TAU!!! Lagian  namaku REGA!” Aduuh,,, aku lemah kalau debat sama cewek cantik “ eh,, menurut kamu si Fero gimana? Kayaknya kamu cuek aja waktu dia muncul”

“Fero? siapa?”

“HAH!!!” Rega membelalakkan matanya “Ferrodio itu yang direktur siswa tadi!, sebenarnya aku ga suka sama dia..”

“Direktur siswa punya kekuasaan apa?”

“Dia itu umpamanya yang ikut berwenang dalam pengambilan keputusan di sekolah ini, dan pemegang semua fasilitas di sini”

“Suatu saat aku bakal jadi direktur,,” Kunang berpikir, matanya terlihat tertarik “Jadi bagaimana cara menggantikannya?”

“Mana ku tahu,Tapi menurut gosip direktur siswa itu jabatan yang berlaku selama seseorang sekolah disini, dia sudah jadi direktur sejak kelas 1, eh gurunya sudah ada, Kunang kamu mau kemana??”

“Ah,,, aku mau ke toilet”, lagian ngebagi siswa sebanyak itu pasti lama, pikirnya, ia pun ke toilet yang tak jauh dari lapangan, setelah selesai dan mau kembali ke lapangan ia mendadak terhenti oleh suara lembut yang terdengar samar-samar.

“Ini… suara biola..ah,,, rasanya indah,,,.” Kunang tak ingat dengan apa-apa lagi, dan tanpa sadar ia menuju sumber suara itu berasal, gadis itu teerus berjalan dan baerjalan, suara biola itu seakan membiusnya tapi ketika ia sudah merasa dekat, suara biola itu menghilang

“Hah,,, aku dimana ya???? Kok??? Lantai 4?” Kunang tersadar, “yah sudahlah,,,Eh..ada seseorang di dalam kelas,,, pemain biola tadi?”

Seorang laki-laki berpostur tinggi dan bertampang blasteran sedang membereskan biolanya, dari jas sekolahnya yang berwarna biru laut Kunang langsung tahu pasti pria itu siswa Music class, setelah membereskan biolanya, ia mengambil sebuah lukisan atau foto yang sejak tadi ditempelkan pada dinding di hadapannya, Foto itu  lalu diciumi olehnya,,,, tapi setelahnya,,,cowok itu mendengar bisikan

“Aneh…”

Cowok itu membeku,,, lalu dengan slow motion dia menengok ke arah Kunang yang dengan santainya tersenyum mencurigakan,,,

“Oh.. ada juga yang begitu…” tambah Kunang sambil tersenyum jahil

“Apa yang kau liat! Ngintip apa kamu!” cowok itu keliatan sangat panik, ia berusaha menyembunyikan foto dibelakang tubuhnya.

“Kau cinta mati sama Mozart ya? Jangan kau pikir karna aku jurusan reguler jadi gak tau wajah Mozart”

Pemuda itu terlihat kaget setengah mati, matanya terbelalak “mana mungkin, kamu pati salah sangka!”

“I know your’s secret senpai, semoga berhasil deh,,” gadis itu pun hendak pergi “bye kakak kelas”.

“TUNGGU!!!!!! Damn! ” Pemuda itu langsung lari mengejar Kunang yang hendak menuruni tangga, sebelumnya ia sempat secepat kilat mengunci ruang kelas, mungkin takut barang-barangnya diambil.

“Cih,, ngikutin ya??” Kunang yang merasa dirinya dikejar ikut berlari menuruni tangga, lantai 3 berhasil dilaluinya dengan cepat, ia harus berlari sepanjang koridor kelas lantai 3 karena tangga yang menghubungkannya ada di ujung satunya.

“hei!! JANGAN LARI!!!” sial! Tu anak larinya cepet juga, padahal pendek tapi teknik larinya sempurna! Pikir cowok itu diam-diam kagum tapi hanya sejenak karena ia ingat rahasianya  diketahui gadis mungil didepannya, mengingat itu dia berlari 2 kali lebih cepat “AWAS KAU YA!!!!!! KUTANGKAP KAUUUU!!!”

“IMPOSSIBLE!!!” ejek Kunang, gadis itu sempet-sempetnya menjulurkan lidahnya ke arah  cowok itu yang baru saja menuruni tangga lantai 3. mereka terus berkejar kejaran seperti tom and Jerry, ketika Kunang hampir saja berhasil dikejar eh lolos lagi, siswa-siswa yang kebanyakan berjas biru laut Cuma bisa menyingkir sambil menyelamatkan alat musik yang mereka bawa.

Tinggal turun satu lantai lagi  tapi baru saja Kunang menuruni beberapa anak tangga tiba-tiba kepalanya terasa pusing, dan gadis itupun kehilangan keseimbangannya…”Sial,, kenapa kambuh saat sekarang sih! Eh,,”

“Hey bodoh!” Pemuda itu berhasil merangkul untuk menahan tubuh Kunang yang hampir saja jatuh karena terpeleset”LIHAT KAN! HARUSNYA KAMU LEBIH HATI-HATI! DENGAR tidak,,eh,, kenapa kamu?” pemuda itu bingung melihat Kunang yang kepalanya terkulai,, pingsan,,, ia baru sadar, tubuh gadis itu sangat panas!

“Hei??? Kamu kenapa? Bangun hei?!!!”

“hUAm,,, eh,, aku dimana?” Kunang terbangun, badannya terasa sudah baikan, di sampingnya seorang pemuda  tertidur di kursi sambil mengigau, kakak kelas yang mengejarnya tadi!  “hm,, kompetisi musik ntar Gavotte atau apa ya… sesuatu yang membahagiakan”

“Mozart,, symphoni no 6 bagus,, agak cepat tapi itu memang karakternya tapi permainannya menarik”pikir Kunang dengan tampang sok tahu sambil mengingat permainan cowok di sampingnya, seketika ada senyum licik di mukanya “kakak kelas,,,eh kakak, ada Mozart loh! Nyata!”

“Ehhhhhhhhhhhhhhhhhhh,,, MANA MOZARTnya? Kok kamu,,,??” cowok itu refleks bangun, sesaat terlihat bingung, tapi ketika melihat Kunang otaknya langsung bekerja “NAH sekarang ketangkap kamu!!!” Cowok itu tersenyum senang “coba beri tahu aku APA YANG KAMU LIHAT TADI??”

“Semua… eh?!” Kunang kaget karna cwok didepannya memegang dahinya lalu kedua pipinya, refleks saja gadis itu menepis dengan kasar

“ Kenapa sih Kakak Kelas! Aku bisa laporin ke guru loh!,,,”

“Aku Radiaz F Edward, kelas 2 Musical class, tadi Cuma meriksa doang, ah syukurlah demam kamu udah turun, oya kamu sendiri siapa?”

“Kunang, kelas 1 Reguler class,, hei kenapa kau ketawa!”

“Kunang??” Radiaz tersenyum mengejek “nama yang bagus”

Mulut sama hati gag sesuai, pikir Kunang sebal, selain itu gadis itu juga sebal karena hal lainnya

“ iya, namaku Kunang, sekarang kakak jadi rekan ku, kalau aku butuh sesuatu kakak harus nolong!”

“APA?! ”

“Iya,, apa kakak mau aku kasih tahu semua orang kalau kakak menciumi foto Mozart?”

“Tidak akan ada yang mempercayai kamu tau! Mereka pasti lebih percaya padaku daripada sama anak baru sepertimu”

“Oya,,,,”

“ya”

“Kakak yakin sekali”

“Aku selalu yakin”

“Mungkin awalnya mereka bakal gag percaya, tapi coba deh kakak pikirkan,,, kalau aku mengerjai kakak dengan nama Mozart, memang kakak bodoh gak kan kepancing?”

“Siapa yang bodoh?!,ya sudah, tapi aku bakal ngebantu kamu sekali saja, gag lebih! tapi apa kamu bisa pegang janji?”

“Tentu saja” jawab Kunang sambil menguap, “wah aku harus pulang untuk siap2 pindah ke asrama besok, kakak bodoh ya, sudah jam 5 sore tapi belum pulang”

“Gara-gara siapa coba? Sudah pergi sana!” ucap cowok itu masih setengah kesal melihat kunang yang dengan cueknya berdiri dari kasurnya

“kak Edward sudah mahir bahasa Indonesia ya?”

“Eh?” cowok itu terdiam, memeras otaknya, ia memang merasa pernah melihat Kunang entah dimana,

Kunang…. Kunang… Kunang… Ah! Ia ingat!

Cowok itu lalu berbalik dan menatap pintu yang baru saja menutup, setelah terdiam sesaat ia memutuskan berlari mengejar Kunang, dan tak perlu waktu lama karena gadis mungil itu ternyata masih ada di balik pintu. “Kunang..??”

“Edward!”

“I know… you’re must be a little girl from Senggigi Beach, right?!” sekarang Radiaz ingat gadis kecil yang 7 tahun lalu ditemuinya, gadis kecil yang bersikeras untuk menemui sahabatnya “Gak nyangka banget kita ketemu disini, mana kejar-kejaran dulu lagi!”

“Hufh…I’m not a little girl!” Kunang ngambek, wajahnya mengingatkan Diaz pada ekspresi gadis itu waktu pertama bertemu, sama-sama membuat alisnya mengkerut bingung

“Oke,,, aku yang salah, apa yang bisa aku lakuin supaya nona Kunang tidak ngambek lagi?” Diaz berubah menjadi sangat bersahabat, ia tidak pernah menduga satu-satunya gadis kecil pemberani yang paling berkesan bagi dirinya kini ada dihadapannya, kenapa tidak sejak awal ia mengenalinya? Padahal gadis itu tampak tidak berubah,  tetap manis dan terlihat agak angkuh juga pemberani.

“Besok bantu aku beres-beres, terus traktir aku makan yang enak, untuk sementara itu cukup”

“Tapi soal Mozart itu harus kamu rahasiakan loh!”
“Hmm,, gimana ya?? Oke untuk sebulan ini tidak akan kubocorkan, tapi selanjutnya entah,,,”

“Baiklah,,, kalau gitu gw harus ke asrama dulu, see U tomorrow!

 
Leave a comment

Posted by on March 29, 2010 in Chapter 2

 

Chapter 2_7 tahun kemudian_ part1

Qualified School, lapangan upacara, 7 am

Qualified school, hari ini upacara penerimaan siswa barunya ya? Pikir kunang bersemangat! Oya, Kunang A.E.Z. (singkatannya silahkan kau pikirkan), hari ini baru jadi siswa kelas 1 SMA Q School, SMA swasta terfavorit di Indonesia bahkan telah diakui dunia. Yang membangun sekolah ini kabarnya orang keturunan Indonesia berkebangsaan Amerika yaitu businessman terkemuka Ir. Frederich Sebastian sekaligus salah satu dari 5 orang terkaya di Indonesia. Kunang sih, ngejar sekolah disini walaupun jauh-jauh dari Lombok karena..

Yah,, kalian bisa lihat daftar keuntungan yang telah gadis ini tulis di buku catatan

NO SMA Q SMA lain
1.

2.

3.

4.

5.

6.

Biaya masuk gratis

Asrama gratis

Buku pelajaran gratis

Makan gratis

Prestasi meningkat, dikasih hadiah

Tempat sekolahnya mewah

Biaya masuk bayar RP….

Asrama tau kos bayar Rp…

Buku pelajaran bayar Rp….

Makan bayar Rp….

Prestasi meningkat, hadiah belum tentu

Entahlah yang pasti biasa aja

Tapi tentunya hal itu dibayar dengan harga yang tidak sedikit, test masuk ke sekolah ini sangat sulit. Bahkan sampai diadakan bermacam-macam tes selama 5 hari berturut-turut.

“Eh,,, kayaknya rame,,” Kunang memperhatikan seorang cowok yang asyik main PS3, saat ini semua siswa baru sedang berkumpul di lapangan.

“ Iya rame, mungkin sebentar lagi direktur siswa bakal ngasi sambutan”

“Hah? Maksud gw ini!” Kunang tanpa ba  bi bu langsung merebutnya “ Wah, aku pinjem ya!!! Eh ini kan game-game yang lagi populer, wah seru nih!”

“ Hei,,, kamu… ah, karna kamu cantik, boleh…. EH,,,EH TAPI MENCETNYA JANGAN KERAS-KERAS,, iya maaf!!!” cowok itu menciut begitu melihat tatapan tajam kunang “ Tapi betul nih kamu gak tertarik, tadi diumumkan loh kalau direktur siswa…”

“Sudah diam!”

Sementara  Kunang telah masuk ke dalam dunia game, sesosok cowok tinggi berkaca mata frameless naik ke atas stage. Cowok itu sangat tampan, dari tampangnya seperti keturunan Jepang. Dia menggunakan jas kelas Spesial berwarna hitam, tapi yang membedakannya dengan siswa lain dia mengenakan bet besar berlambang burung elang di lengan baju kanannya, lambang direktur sekolah. Ya,, di Sekolah ini setiap tingkatan kelas terbagi menjadi empat kelas, yaitu :

+ Special class=> berjas hitam, kemeja putih, rok/celana hitam dan pada dasinya tertera huruf S

+ Music class =>berjas biru, kemeja putih, rok/celana biru dan pada dasinya tertera huruf M

+ Regular Class=> berjas merah, kemeja putih, rok/celana merah  dan pada dasinya tertera huruf Q

+ Zero class=> Tidak berjas dan pada dasinya tertera huruf 0,Zero class sering juga disebut “kelas penebusan dosa” sebab yang masuk ke kelas ini adalah siswa yang melanggar peraturan sekolah. Siswa bisa kembali lagi ke kelasnya jika menurut dewan guru hukumannya sudah cukup. Anehnya keadaan kelas Z kelas tidak diketahui para siswa kelas lain, karena siswa yang telah dihukum ingatan ketika di Z class akan lenyap.

Cowok itu tak henti-henti tersenyum sepanjang jalan menuju stage. Tapi senyumnya terhenti ketika melihat seorang Gadis, satu-satunya siswa baru yang tak memperhatikannya, malah asyik main game. Gadis itu ditepuk teman sebelahnya dan merekapun bertatapan, eh dengan cueknya sekejap kemudian gadis kecil itu lebih memilih melanjutkan gamenya!.

Hm… anak itu, yang dikatakan Miss Monica itu, pikir Fero, dia anak yang bikin bingung dimasukkan ke kelas mana, dan .. sekarang, dia berani buat masalah sama aku!! DIA BERANI NYUEKIN AKU???

“Fero,, ekpresimu aneh,,,” bisik seorang gadis anggun dan cantik disampingnya yang ikut mendampingi menuju podium. Gadis itu tinggi semampai dan hanya berbeda 5 cm dari Ferro yang tingginya sekitar 180an cm itu “Tenanglah,,,” tambahnya

“Huh,,,”Fero berdecak pelan,, lalu mulai kembali seperti biasa, tersenyum dengan senyum gentlement.

Sekarang Fero telah di podium, dia bertekad akan meyampaikan sambutan dengan penuh pesona seperti biasa sehingga si “Gadis Cuek-Yang Lebih Milih Main PS Daripada lihat Aku” itu pun akan memperhatikannya. Tapi ternyata salah, siswa2 lain boleh tertarik dan bertepuk tangan sekeras-kerasnya, tapi Kunang yang telah mengembalikan PS3 ke Rega malah menguap dan kelihatan tidak antusias “Kayaknya masih lama” pikir gadis itu sambil melihat jam tangan mickey mousenya.

Oh,,, begitu ya, Gadis cuek “pikir Ferro sambil mengulum senyum licik, ia telah menyelesaikan pidatonya dan langsung menuruni stage”Aku berjanji kau akan menyesal tidak memperhatikan aku, sang direktur siswa sekolah ini”

 
Leave a comment

Posted by on March 29, 2010 in Chapter 2

 

Chapter 1_Burung Biru_Part 2

Sudah beberapa hari ini cuaca di pantai Senggigi tampak semakin cerah, tapi tidak tampak di wajah seorang gadis yang menunduk sendirian di tepi pantai….

“Eh,,,excuse me, little girl. Is there any mini market nearby?” tanya seseorang anak laki-laki blasteran yang kebetulan lewat, tapi anak itu langsung mengerenyit melihat wajah bad mood kunang.

“Oh, I’m sorry, I think you can speak English. I can’t say Indone,,,”

“Don’t TOUCH ME like this” Kunang merasa kesal rambutnya dielus elus sama bule eropa ini, tapi ketika ia bertatapan dengan mata biru anak laki-laki itu, entah mengapa amarahnya sedikit hilang. “Oh, yes, there’s one over there. Walk down this street until the end of this block and turn left. The mini market is on your right”

“Oh, thank you, but can you accompany me to this place, and we can talk each other?”

Setelah ngobrol selama perjalanan Kunang mendapati bahwa Edward ternyata baru pertama kali ke Indonesia. Ia ke Lombok untuk menemui ibu kandungnya yang kabarnya sedang sakit keras. Setelah ortunya bercerai, ayahnya yang orang Inggris yang membesarkannya.

“Kunang, thanks because you  shall accompany me to this market, I think my father will pick up me about 1 hour, I have a message from his pager that he will be late” Anak laki-laki itu tersenyum, mereka telah sampai di minimarket yang ditunjukkan Kunang. Anak laki2 itu langsung menyandar ke tembok mini market sambil memeluk kotak biola yang sedari tadi dibawanya “ by the way, your English is very good, where do u studies?

“I study by self” Kunang berkata datar, tapi diam-diam Edward kagum banget sama gadis cuek ini “Edward, you’re biola player, aren’t you?”

“Yes, I am. And my father too. You know that you will be very happy if doing your favorite activities with your favorite person. I and my father always plays biola twice a week!”

Seketika Kunang teringat burung birunya “aku juga ingin membangun istana pasir dengannya…eh,, itu kan ibunya Firaz?” gumam Kunang saat melihat seorang ibu muda turun dari mobil sedannya dan bergegas ke apotik, Kunang melihat bagasi sedan itu tidak tertutup dengan rapat

“What happen?”

“I’m sorry, I must leave you” Kunang bergegas ke arah sedan tadi dan mengendap masuk ke dalam bagasinya yang ternyata cukup luas, tapi tak disangka si boy bule eropa itu mengikutinya masuk ke dalam bagasi”

“Kunang, I want participate with your adventure,oke! Be calm, we will survive together, I definite save you!” Boy itu berkata sambil nyengir bak pahlawan di siang bolong

“Siapa yang suruh kamu ikut?” Kunang berkata kesal, dia tidak ingat untuk berbahasa Inggris lagi, habisnya Boy menyebalkan itu sudah menutup pintu agasinya ”Turun….turun…turuuuuuuuun!” tapi ternyata terlambat, mobil sudah menyala kembali dan mereka pergi bersama- sama.

“Untung aja bagasinya bisa terbuka, tapi si Edward kliatan masi kepanasan! Ah biarin aja, salah sendiri mau ikut!” gumam kunang sambil menatap muka anak laki-laki disampingnya, sedikit cahaya yang berasal dari bagasi yang dibukakan menerpa Edward yang terlihat kepanasan.

“Kunang, I’m sorry… please don’t angry  with me..I just very happy because I meet you, and I want around with you for much time ” Edward kliatan merasa bersalah, ia memeluk kotak biolanya lebih erat.

Kayaknya  dia emang bener2 orang asing, masa ngomongnya terus terang gitu? Pikir Kunang sambil mengintip ke luar, kali ini ia baru melewati pasar Jatiranga tempat biasa ibunya belanja. “Ok, I forgive you, but for know you don’t disturb me, and when this car stopped you must going with taxi, you have money, haven’t you?”

“I have money but…please I want help you”

“Emang dia bisa ngebantu apa?” gumam Kunang, Edward yang tidak mengerti bahasa Indonesia hanya menaikkan alisnya

“Hey! Look! There is a hospital right?”

Kunang kembali melihat keluar dan benar ternyata mobil yang mereka tumpangi memasuki pelataran parkir rumah sakit Medistra dan sesaat kemudian mobil berhenti, dengan segera Kunang menutup kembali bagasinya sebab dia mendengar suara seseorang mendekati bagasi, Kunang dan Edward bisa merasakan  ada tangan-tangan yang perlahan bersiap membuka garasinya, membuat jantung kedua anak itu berdebar lebih cepat.

“Eh, honey” terdengar suara ibunya Firaz “baju-bajunya Firaz ditaruh di dalam kok, biar gampang masukinnya.

“Oh…” jawab seorang pria bersuara serak, Kunang merasa jari-jari yang hendak membuka bagasinya telah terangkat, membuat gadis itu lega sejenak sampai…

“Firaz… dia tadi pagi kambuh lagi…”

“Apa?! Kenapa enggak kasih tahu aku??? Pih?!” kunang dapat mendengar wanita itu mulai menangis “Gimana? Gimana? KALAU DIA PERGI TERUS AKU GAK ADA DISISINYA PIH?!!”

“Firaz yang minta Mih, dia bilang belum saatnya dia mati” jelas suaminya lembut “dia udah baik lagi kok, sudah dipindahkan ke ruang inap lagi, oh ya dia menanyakan seseorang namanya Kunang, siapa ma?”

“Kunang? Dia juga menanyakan terus padaku, Kunang itu teman sekelasnya, tapi sayang anak-anak dilarang masuk ke bangsal anak kita”

“Hahahaha…” Kunang  mendengar lelaki itu  mencoba tertawa “Jangan-jangan cinta pertama anak kita ya mih?”

“sruff… juga mungkin cinta terakhirnya ya pih?!” balas wanita itu getir

“Sudah,,, ayo kita ke apotik, setelah itu kita jaga Firaz, ruang inap yang ditempati sama dengan kemarin kok, ruang polkadot-polkadot itu, habis Firaz suka banget ngeliat ikan-ikan terbang terus kalau malam masa dia bilang bakal ada ikan yang bercahaya”

“Ruang polkadot, ikan terbang, ikan bercahaya?” gumam  Kunang ketika ia dan Edward sudah keluar dari dalam bagasi. “Ah, aku tahu, di RS ini kan ruang perawatan anaknya dicat dengan motif polkadot, terus ikan terbang pasti maksudnya layangan ikan raksasa kan kemarin ada festifal layangan, tapi ikan bercahaya?”

“Kunang, you’re ok?”

“C’mon Ed, mission to looking for Firaz is begin!”

Kunang pun menarik tangan Edward, dan kedua anak itu masuk ke rumah sakit dengan menyelinap di kerumunan ibu-ibu untuk sampai ke lift. Sebelumnya gadis itu telah melihat denah rumah sakit dan langsung mengingatnya.

“c’mon Ed! The adventure must go on!” gadis itu agak kesal melihat kawan barunya yang malah bengong melihat Kunang keluar dari lift, tapi kemudian ia mengikuti gadis mungil itu.

“Ok! But you’re not say, where we will go?”

“ To my friend, but I don’t know where he’s room” Kunang menatap jendela yang tampaknya baru dibersihkan, sebab pemandangan di luar kelihatan begitu jelasnya

“Wow, this is a beautiful lake!” Gumam Edward

“Ada jembatan juga eh tunggu, jembatan dan bayangan jembatan itu membentuk gambar ikan! Oya, kalau malam kan jembatan itu setiap sudutnya diterangi lampu, jadi tampak seperti ikan bersinar!! Ed, I know he’s room!”

“Kunang, shtttt there are a nurses walking around here! You must blind!” Edward mendorong Kunang ke balik meja, dia sendiri tetap diam ditempatnya.

“EE eh,,, ada anak bule!” seorang suster langsung tertarik “ Kamu tersesat ya?”

“Wah cakepnya!!! Dimana orang tua mu sayang?!”

“Jangan ganggu dia” kata suster terakhir “kita harus pake bhs Inggris, Hi, who are you?”

“My name Edward I’m…”Edward terus bicara, tapi matanya memberi kode pada Kunang untuk segera pergi ”….I will wait on the lobby…..”

Kunang mengedipkan matanya, iapun menyelinap ke ruang sebelahnya yang tampak hening

“Ctrek…” dengan pelas tapi pasti Kunang masuk ke dalam kamar yang ternyata kamar VIP. Hembusan AC langsung menyapanya,

Apa aku salah kamar? Ruangan ini tampaknya hebat sekali, pikirnya ragu sebelum melihat ke arah di balik tembok dimana ranjang pasien berada. Setahu Kunang, keluarga Firaz sangat sederhana rasanya agak mustahil menyewa kamar yang sebagus dilihatnya. Tiba-tiba ia mendengar suara dari balik dinding…

“Tuhan… aku ingin banget ketemu teman ku, Kunang, Tuhan tolong kabulkan, amin!”

“FIRAZ!” segera saja Kunang menghampiri seorang anak laki-laki yang sedang terbaring lemah di ranjang pasien

“Kunang?” seorang anak lelaki yang sedang terbaring di tempat tidur menekan tombol agar sandaran tempat tidurnya agak tinggi, ia terlihat tak percaya dengan pandangannya “Ini beneran kamu?”

“Kamu sakit apa? Ibuku bilang kalo kamu kena Leukimia, apaan tuh? Emang kamu maen sama bahan2 kimia ya? Terus kok ga ada kabarnya? Teman-teman yang lain nanyain kamu terus” gadis itu memegang dahi dan leher Firaz “apa yang sakit? Agak panas ya badanmu?”

“daripada itu, gimana bisa kamu kesini? Bukannya anak kecil gak boleh masuk?”

“Firaz…”

“Oya gimana kabar temen2 lainnya?”

“Burung biru, kamu belum jawab pertanyaan aku!” Kunang memperhatikan infus di tangan kanan Firaz, selain itu tampak beberapa bekas suntikan di lengan kurus anak itu.”temen-temen yang lain baik-baik aja, tapi mereka khawatir sama kamu”

“Aku baik-baik saja, oh iya aku ingat, tolong ambilkaan tasku yang hitam, yang depannya gambar power rangers”

“Ini..”

“Harusnya ada disini” Firaz mengaduk-aduk isi tas gendongnya, akhirnya ia mendapat sesuatu yang dicarinya “Nah, sekarang kamu merem dulu ya!”

“Kamu mau ngerjain aku?”

“Mana berani ngerjain tuan putri Kunang! Sekali aja!”

Akhirnya Kunang setuju, ia memejamkan matanya, gadis itu bisa merasakan kedua tangan Firaz melingkar di lehernya, hingga

“Nah, sudah kok! Coba lihat! Bagus kan?”

“Kalung?” Kunang mengamati sebuah kalung yang telah melingkar di lehernya, liontin kalung itu berbentuk burung merpati kecil berwarna biru, mau tak mau gadis kecil itu terpesona.

“Itu didapet dari paman dari Eropa, Cuma satu di seluruh dunia, katanya liontinnya bisa menyerap ketidakbahagiaan, jadi kalo kamu lagi sedih, pegang erat aja liontin ini sambil mendekatkannya ke dada ntar perlahan, wush!!!! Ilang deh ketidakbahagiaan ntu, gimana? hebat kan kayak sihir”

“Ini sihir?..” Kunang tersenyum walau agak sangsi

“Harus percaya lo! Kalau enggak, gak bakal manjur. Oya ajaibnya kalo batu liontin ini terkena cahaya matahari warnanya bakal berubah, jadi berwarna merah, warna merah yang paling cocok dengan Kunang”

“Raz…kenapa ya aku jadi gak bisa marah! Asalnya aku mau marah habisnya kamu gak dateng kepantai, terserah deh, tapi aku janji bakal jaga kalung ini baik-baik, makanya kamu juga harus cepet sembuh!”

Firaz tersenyum lemah

“Karna kamu uda ngasih aq benda yang sangat bagus, nih buat kamu” Kunang menyodorkan cangkang keong laut besar nan indah yang Firaz tahu sangat berharga bagi Kunang karena diberi oleh ayahnya.

“Nggak mungkin,,, ini kan sangat berharga buat kamu”

“tapi aku ingin kamu yang nyimpen, benda berharga ku lebih tepat disimpan oleh orang yang tepat, nah… kalau kamu kesepian, coba deh dekatkan cangkang itu ke telingamu jika kamu beruntung, kamu bisa mendengar suara laut”

“Aku tahu, terima kasih ya Kunang” Firaz berkata sungguh-sungguh, rasanya saat itu dia benar-benar hidup. Kunang bagai sumber cahaya bagi dirinya yang tidak pernah padam. Ia bertekad akan cepat-cepat mengalahkan penyakitnya dan selamanya bersama sahabatnya.

“Oya burung biru, hmmm… “ Kunang memperhatikan wajah Firaz seperti sedang menilainya.

“Apa?? Eh… emang kenapa sama…” Firaz tak mampu berkata saat Kunang tiba-tiba mencium pipi kanannya, rasanya ada desir halus di relung hati Firaz, ada sesuatu yang hangat melingkupi dirinya, ada suatu perasaan aneh dan asing yang belum pernah dirasakannya.

“Aku liat di tv, waktu si cowok ngelamar ceweknya di rumah sakit dia nyium pipi cewek itu, cowok itu jago masak, dia bilang ke cewek itu kalo mau jadi istrinya, tiap hari dia bakal masakin yang enak-enak”

“Lalu?”

“Mau engga suatu saat kalo kita udah gede, kamu nikah sama aku dan masakkin aku yang enak-enak tiap hari?”

Seorang anak cewek melamar? Firaz memang sudah biasa melihat tingkah aneh Kunang, tapi ini yang paling aneh. Nikah berarti setelah dewasa dia bisa terus bersama-sama Kunang dan itu yang memang diinginkan Firaz, maka tanpa ragu cowok itu menganguk.

“Ayo kita berjanji” lalu mereka berdua pun saling mengkaitkan kelingking.

“Wah, udah jam segini, aku pasti dicariin kalo pulang telat, besok aku bakal kesini lagi”

“Kunang” Firaz memegang tangan Kunang yang hendak beranjak “Maafin aku gak dateng ke pantai, sebenarnya aku ingin sekali”

“Gak papa, tapi lain kali kita harus buat istana pasir lagi ya! Janji loh! Bulan depan kan ulang tahun aku, kita udah janji tiap ulang tahun aku kita bakal maen di pantai seharian!” Kunang tersenyum manis, senyum yang sangat disukai Firaz, tapi kali ini rasanya ia tidak bisa membalas senyum anak perempuan itu.

“Kunang!” seseorang memanggilnya sambil berbisik, ternyata teman bulenya yang datang, anak bule itu menatap Kunang dan Firaz bergantian, hampir saja rasanya jantung gadis itu copot saking kagetnya “His parents coming! And a doctor too”

Kunang menatap Firaz yang terlihat kecewa sambil mengacak-acak rambut Firaz.

”ya udah aku harus pergi, take care, jangan nangis, besok aku datang lagi!”

“Tidak ada dalam sejarah kalau Firaz menangis” ucap Firaz dengan suara parau sambil menatap punggung Kunang yang menghilang menjauhinya, dan akhirnya lenyap, ia pun mengalihkan pandangannya pada sebuah brosur rumah sakit di Singapura yang tadi ia sembunyikan. “Kunang, maaf, aku belum bisa memenuhi janji tapi suatu saat, aku sendiri yang akan menemukanmu”

Sementara itu Kunang terdiam sebentar di depan pintu kamar Firaz, kenapa ya kakinya berat untuk melangkah? Rasanya ada yang salah. Seketika itu tangannya refleks memegang erat liontin burung biru yang dikenakannya.

Tidak apa apa… tidak apa apa… Burung biru akan baik baik saja…

Apa karena memang benar liontin itu seperti yang dikatakan Firaz atau bukan, rasanya hati gadis kecil itu sedikit tenang, ia pun tidak menolak saat Edward menarik tanganya untuk keluar dari rumah sakit itu.

Besoknya Kunang tidak dapat menemukan Firaz di rumah sakit, karena temannya itu telah pindah. Edward juga telah kembali ke negara asalnya membuat gadis itu merasa sangat sedih. Tapi ia yakin, suatu saat pasti akan bertemu lagi dengan teman-temannya itu. Lagipula Firaz sudah berjanji, dia pasti menepati janjinya.

 
Leave a comment

Posted by on March 29, 2010 in Chapter 1

 

Chapter 1_Burung Biru_part 1

Sore itu angin bertiup lebih ganas dari biasanya, awan hitam nan tebalpun telah menyelimuti pantai Senggigi yang elok itu  pertanda akan terjadi hujan lebat atau pun mungkin badai sedang terjadi di laut. Para peselancar satu persatu meninggalkan pantai, tak ketinggalan wisatawan lain yang sedang berenang ataupun berjemur menyudahi aktivitasnya dan memilih beristirahat di hotel-hotel dan rest area yang tak jauh dari pantai. Seketika pantai berpasir putih itu sepi, hanya menyisakan seorang gadis kecil berumur 8 tahun yang tampak sedang menunggu, gadis kecil itu terlihatl ogah-ogahan membetulkan istana pasir yang terkikis tertiup angin. Istana itu baru jadi setengahnya. Setengah bagian lagi akan diselesaikan oleh sahabat baiknya, mungkin, bila ia datang, tapi sahabatnya telah berjanji dan dia tidak atau mungkin belum pernah mengingkari janjinya.

“Kesel!” rajuknya sambil menyodakkan sekuat tenaga sekop merahnya ke dalam pasir “kenapa dia lama sekali? Memangnya dia pikir dia siapa?…” kali ini gadis itu melempar timbunan pasir yang telah disekopnya, mukanya mengkerut dan mulutnya terus mengumpat kesal.

Gadis itu terdiam kembali ketika menyadari langkah kaki yang berlari ke arahnya, orang itu membawa payung. Ternyata tanpa disadarinya gerimis telah datang.

“KUNANG!…” wanita itu berhenti dan langsung memayungi gadis kecil itu, nafasnya agak tersengal karena berlari

“Ma… lihat! Kami akan membuat istana pasir! Disana aku jadi ratunya, dan burung biru bakal jadi kokinya, aku bakal bisa makan enak tanpa ngeluarin uang disana! Hmm,, kalau mama mau jadi dayang aku, mama boleh ikut”

Anak ini… greget ibunya, teteeep aja gag berubah! Suka cari untung!, memang anak dan ayah sama aja! Oiya,… ibunya tiba-tiba menunduk, mengingat sesuatu “ Kunang, kamu masih nunggu Firaz?”

“Iya! Dia lama banget…” kunang kembali memasang tampang juteknya

“Kunang sayang, jadi bener kamu sekarang punya sahabat baik? Mama bahagia… kamu yang biasanya selalu menjahili teman-teman kamu dan membuat mama kerepotan karena ditegur orang tua temanmu dan wali kelas sekarang… sekarang…”

“Ma, mama ga malu ya berpose kayak orang shock gitu” Kunang terlihat ilfeel, gimana enggak, sekarang mamanya sudah tengkurap dan mukul2 pasir kayak orang aneh.

“Maaf… “wanita itu berdiri” kita pulang yuk, lagipula Firaz tidak akan datang, mamanya sendiri yang tadi nelpon..” dia terhenyak menatap anak semata wayangnya yang terlihat kecewa menatap hujan yang akhirnya meluruhkan istana pasir yang baru setengah jadi itu. Akhirnya Kunang tak berkata-kata lagi dan mengikuti ibunya pulang ke rumah.

Firaz adalah anak cowok yang hobi berkelahi dan gampang emosi. Tapi anak penyuka warna biru ini akhirnya dikalahkan oleh Kunang dengan satu pukulan (yang sebenarnya, mulut anak itu disumpal daun selada dan akhirnya muntah-muntah parah karena dia benci sama sayuran). Sejak saat itu, entah mengapa mereka bisa jadi teman. Mungkin karena Kunang menyukai masakan buatan Firaz, mereka sama-sama pecinta makanan, dan Firaz merasa senang. Firaz selalu menyombongkan diri akan menjadi juru roti nomor 1 sedunia. Yang jelas, bagi Kunang, Firaz adalah teman pertamanya sekaligus burung birunya yang selalu punya harapan dan keinginan setinggi bintang di langit.

Balik lagi ke Kunang, begitu ia dan ibunya  masuk ke rumah dan minum segelas cokelat hangat, ibunya memanggil. Gadis itu tau pasti ada sesuatu yang ga beres, sebab dari tadi mamanya terus saja terdiam.

Wanita muda itu menaruh kedua tangan di atas tangan kunang. Tangannya gemetar.

“Ma, ada sesuatu sama Firaz?” Kunang menatap lurus wanita muda di hadapannya.

“Kunang…” dia mengirup nafas panjang “Firaz kan beberapa waktu pernah gak masuk sekolah, dia menjalani tes darah oleh pa dokter. Hasilnya sudah keluar,,, dan ada sesuatu pada dirinya,,, sesuatu itu adalah leukimia”

Kunang yang masih kecil tentu saja tidak mengerti, tapi ia tahu dari ekspresi ibunya, leukimia pasti tidak bagus, jadi ia hanya memandang ibunya dengan bingung

“Leukimia itu nama penyakit yang artinya kanker darah, orang yang mengidap penyakit yang dialami Firaz—ada kemungkinan harus pergi”

“Pergi?”Kunang tampak shock “Enggak!   Aku ga mau dia pergi! Firaz udah janji bakal jadi koki aku selamanya!!”

Koki??? Bukannya teman???

“Dia…” entah mengapa gadis itu merasa lidahnya kelu, iapun berlari ke kamarnya dan mengurung diri, hampir tanpa suara dia menangis sambil berusaha berpikir. Kunang memiliki bakat istimewa yang membuatnya menjadi lebih cepat berpikir. Bakat itu adalah ingatan fotografis. Sekali dia mengalami sesuatu—apapun itu, tidak akan pernah dilupakan seumur hidupnya. Tapi itu rahasia. Ibunya menekankan sejak kecil agar jangan sampai bakat Kunang diketahui siapapun. Dan kini gadis itu sedang mengingat,,, beberapa hari lalu, Firaz yang tampak makin pucat dan lemah, tapi masih selalu bersemangat. Apa yang dapat dilakukannya agar burung birunya tidak pergi?

 
Leave a comment

Posted by on March 29, 2010 in Chapter 1

 

Qualified School -Pengenalan tokoh utama

StaRRing

Kunang (1 R) : Cewek mungil berambut sebahu ini terkenal sebagai cewek yang tidak hanya pintar tapi juga cantik. Banyak cowok yang mengidolakannya. Cuma kelakuan dan ekspresi judesnya kadang membuat orang lain salah paham dan menjauhinya. Cewek ini rakus kalau dalam urusan makanan dan selalu gak mau kalah apalagi rugi. Pandai berbisnis dan memanfaatkan situasi. Sulit menunjukkan perhatian dan emosi pada orang yang disayanginya. Memiliki ingatan fotografis, artinya sekali dia melihat dan mendengar sesuatu dia tidak akan lupa tapi kemampuan itu disembunyikannya. Hobinya menjaili Amy dan Faza. Berusaha menjadi murid teladan untuk mendapatkan hadiah.

Amy (1 R) : cewek manis berambut ikal panjang yang selalu dikuncir buntut kuda. Gadis ini sangat ceria dan sahabat terbaik kunang. Sifatnya agak cengeng dan penakut terhadap hal-hal mistis. Selalu dapat menceriakan suasana dengan kehadirannya. Di sekolah, sebelum bertemu  Kunang dia sering dikerjai.

Ferro (3S):  Direktur siswa SMA Q sekaligus orang paling popular di sekolah, cowok berkepribadian ganda sebab dimata siswa lainnya dia adalah prince charming yang jadi idola, tapi tidak bisa mengelabui mata Kunang. Ferro black’s side sebenarnya adalah cowok cuek yang melakukan perbuatan baik kalau ada  untungnya saja, orang yang sangat perhitungan. Mempunyai banyak julukan, diantaranya si otak brilian  dan Prince charming.

Radiaz (2M) : Cowok maniak ‘Mozart’ dan penggubah musik klasik lainnya. Spesialisasinya adalah biola dan piano. Saking sukanya pada Mozart dan pencipta musik klasik lainnya dia akan langsung terdiam terpesona hanya dengan melihat foto Mozart! Terlihat pendiam dan selalu dingin terhadap orang lain tapi apabila bersama orang yang disukainya dia akan berlaku sangat lembut.

Srevia (1 S) : cewek ini menganggap Kunang teman perempuan pertamanya. Karena dia dulu dijauhi karena selalu dengan Rega, cinta pertamanya sekaligus teman masa kecilnya. Kunang hanya takluk pada Srevia.

Faza (2 R) : Adiknya Ferro, berwajah manis, selalu terlihat angkuh dan sombong tapi sifat yang sebenarnya tidak diperlihatkan pada orang lain. Faza sebenarnya adalah cowok yang bersemangat dan meledak-ledak, keras kepala, dan juga suka narsis. Karena mengetahui hal itu, kunang sering menggodanya.

Firaz       : Sahabat masa kecil Kunang, sering dipanggil “burung biru” oleh Kunang

Rega  (1 S) : Cowok pembuat onar no 1. sangat membenci Ferro yang sebelumnya sama-sama kelas S, tapi karena suatu hal dipindahkan ke Z class. Benci pada        semua guru. Obsesinya adalah ingin mengalahkan Ferro dengan cara apapun dan mempermalukan Ferro dengan menunjukkan black’s side Ferro.

Aditya (1R) : ketua kelas Q ini sangat baik walau terlihat lemah dan biasa. Selalu bisa menyelesaikan masalah dengan bijak. Murid kelas 1  paling pintar di Q class selain Kunang.

Guru :

Mr. QQ (baca :’kyu kyu) : Guru ini sekilas tampak seperti anak SMP belaka. Mukanya manis dan imut tapi sifatnya dapat berubah menjadi menakutkan. Siswa tidak ada yang berani macam-macam, sebab telah beredar isu kalau membuatnya marah, maka hari2nya di sekolah akan tersiksa. Tapi entah mengapa, Mr QQ hanya baik pada Kunang.

Miss Trudi : Guru misterius yang memiliki kemampuan yang menakutkan. Hanya mengajar di SC

 

ujan, dingin, diem sendiri di kostan…

Jadi dari pada aku bengong, aq dengerin lagu Miso Soup by Tegomass aja… eh tapi jd malah inget mama q cyang… T_T

suara mereka kren abiz!!!

 
Leave a comment

Posted by on March 29, 2010 in Uncategorized

 

Tags: